Happy hour at Library

Happy hour at Library

Kamis, 07 Oktober 2010

METAMORFOSIS KUPU-KUPU :) :)

Metamorfosis adalah suatu proses biologi di mana seekor hewan secara fisik mengalami perkembangan biologis setelah dilahirkan atau menetas yang melibatkan perubahan bentuk atau struktur melalui pertumbuhan sel dan differensiasi sel. Salah satu hewan yang mengalami metomorfosis adalah Kupu-kupu.
Kupu-kupu mengalami metamorfosis sempurna (hemimetabolisme). Selain pada Kupu-kupu, metamorfosis juga terjadi pada beberapa serangga lain semisal Capung, Jangkrik, Belalang, Kecoa dll. Metamorfosis juga terjadi pada ampibi seperti katak. Kalau pada manusia?

metamorfosa-kupu-kupuKupu-kupu mengalami tahapan yang lebih panjang ketimbang hewan lainnya sebelum menjadi kupu-kupu dewasa. Pertama kali, kupu-kupu yang indah dan anggun akan bertelur. Telur kupu-kupu bisanya akan menempel di dedaunan. Telur inilah kemudian yang menjadi ulat. Sesosok makhluk pengrusak yang keberadaannya sangat menjijikkan.
Setelah ulat menjadi besar dan memanjang, ia akan berubah menjadi kepompong (pupa atau chrysalis). Di dalam pupa, cairan pencernaan akan dikeluarkan untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan sebagian sel saja. Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva. Setelah beberapa lama, dari kepompong tersebut akan keluar seekor kupu-kupu yang masih muda. Tidak berapa lama kemudian menjadi kupu-kupu dewasa.
Perjalanan metamorfosis Kupu-kupu dapat kita ambil hikmah sebagai proses perjalanan hidup manusia di dunia. Sebagai mana kupu-kupu yang terlahir menjadi sebutir telur, mausia terlahir dalam kondisi suci tanpa dosa.
Fase ulat yang serakah dan menjijikan merupakan representasi dari perilaku manusia dalam perjalanan hidupnya. Segala perilaku buruk dan melanggar norma-norma baik hukum maupun agama seringkali dilakukan oleh manusia. Keadaan ini dapat dilihat dari tingginya angka kriminal, kasus korupsi, kemiskinan yang semakin meningkat, sampai kerusakan lingkungan yang tentunya salah satu merupakan andil dari perilaku diri kita sendiri yang serakah. Semua perilaku yang buruk tentunya harus dirubah.
Fase metamorfosis selanjutnya adalah kepompong. Fase kepompong merupakan analogi dari bulan ramadhan. Pada bulan ramadan setiap umat Islam dapat berkontemplasi mengenai perilaku buruk apa yang telah dilakukan serta akibat yang ditimbulkannya. Keserakahan dalam mengeksploitasi kekayaan alam dan lingkungan hidup, mengakibatkan gundulnya hutan yang mendatangkan bencana banjir dan tanah longsong. Juga berbagai aktifitas lain yang pada akhirnya mendatangkan kerugian pada manusia seperti pemanasan global, pencemaran tanah, udara dan air.
Pada bulan ramadan kita meninggalkan berbagai keserakahan yang biasa kita perbuat dengan mengerjakan ibadah puasa yaitu menahan nafsu makan dan minum serta menahan hawa nafsu. Kita tundukkan diri untuk mengakui dan memohon ampun atas berbagai kesalahan yang telah diperbuat selama ini. Di samping itu berbagai perilaku baik dan ibadah yang mendatangkan pahala mesti kita kerjakan sekuat tenaga.
Ibarat larva yang menjelma kupu-kupu, demikian juga dengan manusia. Setelah sebulan berada di dalam kepompong ramadan, sampailah kepada idul fitri. Maklumat dari puncak metamorfosis yang mengembalikan sosok ulat menjijikkan menjadi seekor kupu-kupu nan indah.
Sedikit yang berbeda. Kemenangan manusia menggapai idul fitri bukanlah akhir dari perubahan sikap yang harus dilakukan. Hal ini disebabkan karena setiap saat perilaku manusia selalu dituntut untuk berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan perilaku ini sesuai dengan keterangan yang menyebutkan bahwa seseorang dikatakan beruntung adalah manusia yang perilaku hari ini lebih baik dibandingkan dengan perilaku kemarin dan perilaku besok lebih baik dibadingkan hari ini.
Metamorfosis kita kali ini mungkin belum menjadikan kita sebagai kupu-kupu yang terindah. Tetapi berbeda dengan kupu-kupu, bukankah kita diberikan kesempatan untuk bermetamorfosis setiap tahun?. Semoga tahun depan kita masih dapat bermetamorfosis, tentunya dengan hasil yang lebih baik.
Melengkapi metamorfosis yang telah kita lakukan izinkanlah saya menghaturkan selamat idul fitri 1430 Hijriyah. Taqoballahu minna wa minkum wa shiyamana wa shiyamakum. Wa ja’alana minal aidzin wal faizin. Jika selama ini ada salah ucap dan perilaku mohon untuk dimaafkan.
  • Referensi: id.wikipedia.org/wiki/metamorfosis
  • Gambar: myscienceblogs.com/kids/files/2007/12/metamorfosa-kupu-kupu.JPG

Rabu, 06 Oktober 2010

Keajaiban Burung

Burung merupakan salah satu kekayaan Indonesia. Saat ini diketahui terdapat 1539 spesies burung yang tercatat di Indonesia baik sebagai burung yang menetap maupun pendatang yang hanya singgah sementara. Sebagian diantaranya berupa burung air yang sering dijumpai di habitat lahan basah.
Konvensi Ramsar mendefinisikan burung air sebagai spesies burung yang secara ekologis kehidupan­nya bergantung kepada ke­beradaan lahan basah. Berpatokan kepada definisi terse­but, sampai saat ini di Indonesia telah tercatat sekitar 184 spesies burung air yang berasal dari 18 fa­milia. Indonesia merupakan negara yang mempunyai keragaman burung air tertinggi di dunia. Sebagai perban­dingan, di seluruh dunia terdapat 32 familia yang terdiri atas 833 spesies burung air. Keluarga raja udang (Alcedinidae) dan burung pemangsa (Falconiformes) tidak dikelompokkan ke dalam burung air karena sebagian besar tidak ber­gantung kepada lahan basah.
Ada beberapa istilah yang sering dipergunakan untuk beberapa kelompok burung air. ‘Wildfowl‘ merupakan nama untuk kelompok burung air liar dari familia Anatidae (bebek-belibis). Burung pantai (shorebirds, waders) merupakan kelom­pok burung air ‘perancah’ dengan ciri-ciri ukuran tubuh yang bervariasi antara kecil (13 em) hingga sedang (66 em), bentuk dan panjang paruh sangat beragam dan memiliki kemampuan berjalan (wading) di tempat lunak dan tergenang air (Howes & Bakewell, 1989).
Walaupun memiliki banyak persamaan morfologis kelompok burung yang hidup di laut tidak dikelompokkan ke dalam burung air, karena laut tidak dikategorikan sebagai lahan basah. Kelompok burung ini disebut burung laut (seabirds). Meskipun demikian, masih ditemui sejumlah tumpang tindih dalam pengelom­pokan burung menjadi burung air dan burung laut.
Habitat burung air
Kehidupan burung air sangat bergantung kepada keberadaan lahan basah. Be­berapa tipe habitat lahan basah yang mereka sukai antara lain hutan mangrove dan hamparan lumpurnya, hutan rawa, rawa rumput/rawa herba dan sawah. Mereka menjadikan tempat-tempat tersebut untuk mencari makan, dan mempergunakan vegetasi yang tumbuh di situ sebagai tempat beristirahat dan berbiak.
Beberapa jenis burung air yang umum dijumpai di sawah adalah cangak, blekok, dan kuntul. Burung air yang sangat tergantung pada habitat hutan rawa adalah Mentok hutan (Cairina scutulata) dan Pelatuk besi bahu putih (Pseudibis davisoni).
Burung air dapat berfungsi sebagai indikator kesehatan lahan basah dan lingkung­annya. Lahan basah yang rusak tidak akan mampu menyokong sejumlah besar populasi burung. Gangguan terhadap burung air serta fungsi yang dimilikinya telah menyebabkan kelompok ini sebagai obyek penelitian dan pengkajian yang pan­jang di seluruh dunia.
Pelatuk Besi
Burung Pelatuk Besi Kepala Hitam (Threskiornis melanochepalus) (Foto: Rudy/JGM)
Burung air migran
Burung air pada dasarnya dibedakan menjadi dua bagian utama, yaitu burung air penetap dan burung air migran. Burung air penetap merupakan burung air yang mencari makan dan berkembang biak di Indonesia. Sedangkan burung migran adalah burung yang bermigrasi antara tempat berbiaknya di bagian Utara Asia dan Alaska menuju tempat mencari makan di Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan pulau-pulau di Pasifik Barat atau sebaliknya.
Antara bulan September dan Maret, daerah-daerah pantai di Indonesia disinggahi oleh ratusan ribu burung migran yang sebagian besar berasal dari familia Charadri­idae dan Scolopacidae. Kelompok burung air ini tidak berkembang biak di sini, tetapi hanya menggunakan lahan basah Indonesia sebagai tempat untuk ”mengisi bensin” selama musim migrasi mereka. Kelompok burung tersebut berbiak di lokasi-Iokasi lahan basah pada saat musim panas di belahan bumi utara (Mei - Juli). Apabila masa tersebut telah lewat dan musim dingin akan datang (Agustus - ­September), mereka bermigrasi menuju daerah yang lebih hangat di bagian Selatan dan menghabiskan masa migrasinya dengan mencari makanan sebanyak-ba­nyaknya, untuk kemudian kembali lagi ke lokasi berbiak yang akan menghadapi musim panas (Maret-Mei).
Peran ekologis burung air dan pelestariannya
Burung air diduga berperan penting pada pertukaran energi antara kehidupan di daratan dan di perairan, sehingga mungkin juga turut menentukan dinamika produktivitas biomassa lahan basah. Burung air,menyediakan sejumlah pupuk alam bagi vegetasi yang ada di pantai dan daerah-daerah yang lebih tinggi. Vegetasi ini sering menjadi stabilisator pantai terhadap erosi. Dengan cara itu, hewan ini juga dapat mempercepat suksesi yang terjadi di lahan basah.
Karena berada pada rantai makanan bagian atas, burung sangat peka terhadap polusi dan penurunan kondisi makanannya. Itulah sebabnya mengapa burung air dapat digunakan sebagai indikator untuk kedua kondisi tersebut (Buckley & Buckley, 1976). Duncan Parish (dalam Lansdown, 1986) mengatakan bahwa Bangau dan Kuntul, terutama spesies yang berkoloni, peka terhadap gangguan dan tekanan perburuan selama bersarang. Spesies ini juga sangat peka terhadap pe­rusakan tempat bersarang, seperti pohon tinggi di hutan mangrove atau di lahan basah air tawar.
Sumber:
Nirarita, C.H.E. et al. 1996. Ekosistem Lahan Basah Indonesia. Buku Panduan untuk Guru dan Praktisi Pendidikan. Wetlands International-IP. Bogor

SEJARAH PENERBITAN BUKU DI NDONESIA :)

Di Indonesia, awalnya bentuk buku masih berupa gulungan daun lontar. Menurut
Ajib Rosidi (sastrawan dan mantan ketua IKAPI), secara garis besar, usaha penerbitan buku di Indonesia dibagi dalam tiga jalur, yaitu usaha penerbitan buku pelajaran, usaha penerbitan buku bacaan umum (termasuk sastra dan hiburan), dan usaha penerbitan buku agama.


Pada masa penjajahan Belanda, penulisan dan penerbitan buku sekolah dikuasai orang Belanda. Kalaupun ada orang pribumi yang menulis buku pelajaran, umumnya mereka hanya sebagai pembantu atau ditunjuk oleh orang Belanda.

Usaha penerbitan buku agama dimulai dengan penerbitan buku-buku agama Islam yang dilakukan orang Arab, sedangkan penerbitan buku –buku agama Kristen umumnya dilakukan oleh orang-orang Belanda.

Penerbitan buku bacaan umum berbahasa Melayu pada masa itu dikuasai oleh orang-orang Cina. Orang pribumi hanya bergerak dalam usaha penerbitan buku berbahasa daerah. Usaha penerbitan buku bacaaan yang murni dilakukan oleh pribumi, yaitu mulai dari penulisan hingga penerbitannya, hanya dilakukan oleh orang-orang Sumatera Barat dan Medan. Karena khawatir dengan perkembangan usaha penerbitan tersebut, pemerintah Belanda lalu mendirikan penerbit Buku Bacaan Rakyat. Tujuannya untuk mengimbangi usaha penerbitan yang dilakukan kaum pribumi. Pada tahun 1908, penerbit ini diubah namanya menjadi Balai Pustaka. Hingga jepang masuk ke Indonesia, Balai Pustaka belum pernah menerbitkan buku pelajaran karena bidang ini dikuasai penerbit swasta belanda.

Sekitar tahun 1950-an, penerbit swasta nasional mulai bermunculan. Sebagian besar berada di pulau Jawa dan selebihnya di Sumatera. Pada awalnya, mereka bermotif politis dan idealis. Mereka ingin mengambil alih dominasi para penerbit Belanda yang setelah penyerahan kedaulatan di tahun 1950 masih diijinkan berusaha di Indonesia.

Pada tahun 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih dan menasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia. Kemudian pemerintah berusaha mendorong pertumbuhan dan perkembangan usaha penerbitan buku nasional dengan jalan memberi subsidi dan bahan baku kertas bagi para penerbit buku nasional sehingga penerbit diwajibkan menjual buku-bukunya denga harga murah.

Pemerintah kemudian mendirikan Yayasan Lektur yang bertugas mengatur bantuan pemerintah kepada penerbit dan mengendalikan harga buku. Dengan adanya yayasan ini, pertumbuhan dan perkembangan penerbitan nasional dapat meningkat denganc epat. Menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang didirikan 1950, penerbit yang menjadi anggota IKAPI yang semula berjumlah 13 pada tahun 1965 naik menjadi 600-an lebih.

Pada tahun 1965 terjadi perubahan situasi politik di tanah air. Salah satu akibat dari perubahan itu adalah keluarnya kebijakan baru pemerintah dalam bidang politik, ekonomi dan moneter. Sejak akhir tahun 1965, subsidi bagi penerbit dihapus. Akibatnya, karena hanya 25% penerbit yang bertahan, situasi perbukuan mengalami kemunduran.

Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri, kemudian menetapkan bahwa semua buku pelajaran di sediakan kan oleh pemerintah. Keadaan tidak bisa terus-menerus dipertahankan karena buku pelajaran yang meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, diberikan hak pada Balai Pustaka untuk mencetak buku-buku yang dibutuhkan dipasaran bebas. Para penerbit swasta diberikan kesempatan menerbitkan buku-buku pelengkap dengan persetujuan tim penilai.

Hal lain yang menonjol dalam masalah perbukuan selama Orde Baru adalah penerbitan buku yang harus melalui sensor dan persetujuan kejaksaan agung. Tercatat buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, Utuj Tatang Sontani dan beberapa pengarang lainnya, tidak dapat dipasarkan karena mereka dinyatakan terlibat G30S/PKI. Sementara buku-buku “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, kemudian “Era Baru, Pemimpin Baru” tidak bisa dipasarkan karena dianggap menyesatkan, terutama mengenai cerita-cerita seputar pergantian kekuasaan pada tahun 1966.

Kamis, 23 September 2010

Today must be better than yesterday.... :)

Alhamdulillah... Perpustakaan SMAN 7 SURABAYA telah memiliki BLOG :) Mari aktualisasikan diri, seperti kata bu Merry "Hari ini harus lebih baik dari kemarin"
VISI : Mewujudkan Perpustakaan berfumgsi maksimal sebagai wahana Pembelajaran era Globalisasi

MISI :
1.    Menciptakan lingkungan perpustakaan yang nyaman dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan
2.    Mengembangkan Perpustakaan dengan menjalin hubungan kerjasama dengan perpustakaan kota Surabaya dan Perpustakaan Propinsi Jawa Timur
3.    Melestarikan, mengembangkan, dan mendayagunakan bahan pustaka sebagai sumber ilmu pengetahuan.

MOTTO :
“My library is my second home”